MEMAHAMI LEBIH DULU, BARU DIPAHAMI

     Dalam berkomunikasi sering kali kita mengeluh: “Mereka tidak bisa memahami”. Tetapi pernahkah kita bertanya pada diri kita sendiri: “Apakah aku memahaminya?”

Jika setiap orang hanya menuntut untuk dipahami lebih dahulu, maka tidak ada seorang pun yang akan dipahami.

Tetapi jika setiap orang mau memahami legih dulu, maka setiap orang akan dipahami.

     Pemahaman kita pada orang lain membuat orang tersebut menjadi merasa berharga, sehingga mereka akan semakin terbuka pada diri kita. Keterbukaan akan mempermudah komunikasi dan hubungan antar-pribadi.

     Untuk dapat memahami orang lain, kita harus mampu mendengarkan orang lain dengan sungguh-sungguh dan empatik. Empatik artinya dapat menangkap dan memahami perasaan orang lain. Kita dapat mendengarkan dengan sungguh-sungguh atau memahami dengan empatik apabila:

       1.   Kita mendengarkan dengan penuh perhatian.       

Mendengarkan dengan mata, hati dan telinga. Artinya kita tidak terbawa pada pikiran kita sendiri atau melamun. Tidak pura-pura mendengarkan, atau hanya mendengarkan apa yang ingin kita dengarkan. Tidak hanya sekedar mendengarkan kata-kata saja, sehingga tidak memahami arti dari seluruh apa yang dikatakannya. Memahami orang lain dapat pula dengan cara melihat ekspresi tubuh, intonasi suaranya, dan kata-kata yang dipergunakan.

        2.  Mendengarkan sesuai dengan kerangka berpikir orang yang kita dengarkan.

Disini kita terbelenggu oleh perasaan kita sendiri, tetapi kita berusaha memahami perasaannya. Perasaan itu tercermin dari kata-kata yang diucapkan, intonasi suara, juga mimic atau ekspresi wajah pada saat dia mengucapkan kata-kata tersebut.

       3.  Kita dapat menjadi cermin.

Kita tidak menilai, tidak member nasehat, tetapi kita hanya merefleksikan apa yang ada dalam dirinya, sehingga kita dapat mengulangi apa yang dikatakannya sesuai maksud atau artinya, walaupun memakai kata-kata kita sendiri dengan penuh kehangatan dan pengertian.

Kemampuan kita memahami dengan empatik Nampak dari kemampuan kita menanggapi dengan empatik.

     Inti tanggapan empatik adalah berusaha untuk mengerti orang lain, bukan untuk menjawab, memanipulasi, atau mengendalikan orang lain. Mendengarkan dengan menanggapi secara empatik tidak mengacu pada keterampilan menirukan apa yang dikatakan orang lain, tetapi mengacu pada usaha untuk masuk dengan kerangka berpikir orang lain, mengerti perasaan orang lain, dan mendengarkan dengan telinga, mata, dan hati. Jadi, dalam komunikasi yang empatik, tanggapan kita TIDAK kita maksud untuk:

  • Menasehati, yaitu memberikan penilaian, mengoreksi dan ingin menyatakan apa yang seharusnya atau sebaliknya dilakukan oleh orang lain untuk memecahkan masalahnya.
  • Menyelidiki, yaitu mengajukan pertanyaan berdasarkan kerangka berpikir kita sendiri.
  • Menafsirkan, yaitu berusaha memahami orang lain serta menjelaskan motif dan perilaku mereka berdasarkan motif dan perilaku kita sendiri.
  • Mendukung, yaitu memberikan simpati dengan tujuan untuk meringankan beban orang lain. Dukungan biasanya berupa bimbingan yang apabila kita gunakan secara tergesa-gesa dan tidak hati-hati justru akan menimbulkan kesan bahwa kita merendahkan orang lain.

     Keempat tanggapan yang tidak empatik (bersifat menasehati, menyelidiki, manafsirkan atau mendukung) tersebut, membuat orang menjadi merasa tidak berharga, dicurigai dan dianggap sebagai anak kecil.

     Setelah kita mampu memahami orang lain, kita perlu dipahami orang lain sehingga dapat terjalin komunikasi antar personal yang baik. Untuk dapat dipahami orang lain, perlu beberapa persyaratan yaitu:

  1. Kredibilitas/kepercayaan
  2. Relasi atau hubungan yang baik
  3. Kemampuan untuk mengungkapkan diri.

     Kredibilitas artinya kepercayaan. Agar dipahami orang lain, kita perlu menjadi pribadi yang dapat dipercaya; dipercaya karena kemampuan, keterampilan, intergritas, atau niat baik kita. Apabila seseorang menjadi pribadi tidak dapat dipercaya, maka apapun yang dikatakan tidak akan dipercaya; dan akhirnya dia tidak akan dipahami orang lain.

     Kepercayaan perlu dibangun terus, sedikit demi sedikit, sehingga kita betul-betul menjadi pribadi yang dapat dipercaya.

     Syarat kedua agar dapat dipahami adalah hubungan baik dengan orang lain. Hubungan yang baik adalah hubungan yang selaras, harmonis, yang dapat menyentuh hati dan dapat dirasakan oleh orang lain. Hubungan yang tidak baik antar seseorang dangan orang lain, tidak memungkinkan terjadinya sikap saling memahami.

     Syarat ketiga agar dapat dipahami orang lain adalah kemampuan untuk mengugkapkan diri dengan baik. Orang lain tidak dapat memahami diri kita apabila kita tidak membuka diri untuk mengungkapkan isi pikiran dan perasaan kita. Kita perlu berlatih untuk mengungkapkan pengalaman, pendapat, perasaan kita, baik yang menyenangkan maupun yang kurang menyenangkan sehingga orang lain dapat memahami diri kita.

     Apabila kesediaan dan kemampuan untuk memahami dan dipahami orang lain sudah terjadi, maka komunikasi antar-pribadi dapat berlangsung dengan baik.

KITA punya DUA telinga dan SATU mulut”

Iklan